| Kilas balik Pondok Pesantren Al Asriyyah Nurul Iman |
|
|
|
| Ditulis oleh santri ponpes nurul iman parung | ||||||
| Selasa, 01 Desember 2009 00:00 | ||||||
Nurul Iman adalah sebuah lembaga pendidikan kepesantrenan bebas biaya dibawah Asuhan Guru Besar As Syekh Habib saggaf bin Mahdi bin Syekh Abu Bakar bin Salim tampil elegan di kancah dunia pendidikan sejak 16 maret 1998 dan resmi terdaftar di departemen agama kabupaten bogor pada tanggal 12 maret 1999 dengan nomor \MI-10/PP/007/825/1999, menerima akte pendirian yayasan pada 25 Maret 1999 Nomor :7. Pondok Pesantren ini dengan penuh optimisme melabeli nama dengan nama Nurul Iman dengan Al-Ashriyyah sebagai pointer praktik modernitas yang diterapkan dalam sistem pendidikanya. Seiring laju perkembangannya, kemajuan-kemajuan pesat yang dicapai secara beruntun lebih mempertegas dan menguatkan penjabaran serta membuktikan makna Al-Ashriyyah yang disandangnya. Diusianya yang ke-11 tahun ini, sisi modernitas Nurul Iman dapat di lihat dari beberapa aspek. Dan tentu bukan pada sistem pendidikan kepesantrenan secara subtansial, tapi lebih pada teknis oprasionalnya. Diantaranya : yang pertama ; pembenahan dan penyesuaian kurikulum dengan desain yang mudah diterima dan sesuai kebutuhan peserta didik. Terlihat pula betapa muatan pendidikan umum dan agama dalam perpaduanya mendapat porsi yang semestinya. Selanjutnya sebagai bagian integral dari masyarakat, sosok Al-Ashriyyah Nurul Iman mengedepankan pendidikan yang diarahkan pada pembentukan kepribadian yang responsif terhadap perubahan. Hal ini nampak pada kentalnya praktek keorganisasian yang cukup diversif. Sebut saja Kepengurusan Pusat, BEM STAINI, OSIS, Pramuka, PMR, Drug Prevention Center(DPC) dan masih banyak yang lainnya. Di bidang informatika, kita kenal Website, Broad Casting, redaksi Majalah Nurul Iman, dan lain-lain. Pada bidang sosial, secara aktif Al-Ashriyyah Nurul Iman membangun sinergi yang baik dengan yayasan Tzu Chi indonesia dalam proyek bakti sosial di beberapa daerah khususnya di Jabodetabek. Sisi modernitas yang lain mungkin dapat dilihat dari pengadaan fasilitas pendidkan. Bagian infrastruktur sebagai penunjang berjalan lancarnya proses pembelajaran memang mesti diutamakan. Adanya bangunan sekolah yang difungsikan untuk para peserta didik juga dilengkapi dengan sarana olahraga , perpustakaan, laboratorium komputer dan lain-lain. Semua itu cukup untuk dijadikan sebagai potret modernitas pada sisi fisik Al-Ashriyyah Nurul Iman. Selain pada hal pembenahan kurikulum dan usaha penyempurnaan fasilitas infrastruktur pendidikan, sisi modernitas lain juga dapat dirasa senada dengan Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional yang menawarkan paradigma baru pada lemabga-lembaga pendidikan. di antaranya dengan : 1. menekan kan kemandirian serta memberi kewenangan dalam penyusunan program ;penyusuaian kurikulum /peny aluran bakat minat dan lain lain 2. meningkatkan kualitas hasil produk pendidikan dengan selalu mengedepankan kesesuaian antara out put dan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini al. ashriyyah nurul iman tempak lebih responif membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan praktis diantaranya;bertani ‘ternak ikan air tawar,memproduk pupuk organik, roti, tahu, tempe, air mineral Hexsagonal dan lainnya hingga penguasaan keterampilan lain. Kita bisa melihat adanya kursus komputer, menjahit, mencetak majalah,undangan, poster dan lain-lain. Itulah sepintas pemetaan Nurul Iman dipandang dari sisi modernitas yang tentunya menimbulkan pertanyaan, apakah dengan tingkat modernitas yang cukup tinggi Nurul Iman lantas kehilangan identitas. Untuk menemukan jawaban yang bijak tentu kita perlu lebih dalam lagi menyelami dunia pesantren ini. Disorot dari segi materi pembelajaran yang disampaikan, Al-Ashriyyah Nurul Iman ternyata masih tetap pada prinsip dasar kepesantrenan yaitu dengan selalu memilih fungsionalisasi kitab kuning sebagai sarana utama pembelajaran. Tak heran jika santri Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman pernah juara tingkat I bidang Hadist dalam musabaqah Qiraatul Kutub tingkat Nasional (MQKN) di Lirboyo, Jawa Timur. Praktis fakta ini dapat menepis anggapan bahwa dengan modernitas Nurul Iman kehilangan identitas. Karena faktanya, citra utama Al-Ashriyyah Nurul Iman sebagai lembaga pendidikan Islam tidak luntur tergilas oleh modernitas.
|
||||||
Al Ashriyyah Nurul Iman














