![]() Pesantren merupakan sebuah institusi pendidikan yang memadukan sistem pendidikan modern dan tradisional. Tugas kemasyarakatan kepesatrenan tidak mengurangi arti dan makna tugas keagamaan yang menyebarkan nilai-nilai keagamaan demi kemaslahatan ummat. Fungsi sosialnya menampilkan kepekaan hidup dalam menghadapi berbagai persoalan ummat seperti kemiskinan, membangun silaturhmi, mengurangi angka kebodohan serta menciptakan budaya hidup yang sehat. Lembaga pendidikan ini memadukan Agama dan Umum.
Perpaduan ini secara kongkret diterapakan di Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, yang terletak di Desa Waru Jaya, Parung, Bogor. Seperti juga Pesantren-pesatren lain, tujuan pendidikan di Pesantren ini adalah terbentuknya Manusia yang memiliki kesadaran setinggi-tingginya akan bimbingan Agama Islam yang bersifat menyeluruh dilengkapi kemampuan setinggi-tingginya untuk merespon tantangan-tantangan dan tuntutan hidup dalam konteks ruang dan waktu, baik lingkup nasional maupun global.
Pesantren Nurul Iman bermula dari kegiatan sosial-keagamaan di saat Indonesia dilanda krisis pangan Tahun 1998. implikasi dari krisis tersebut mengundang keprihatinan banyak kalangan yang memberikan bantuan beras lalu dibagi-bagikan kepada masyarakat termasuk di Waru Jaya, Bojong Sempu, Iwul, Tegal Sari dan sekitarnya yang disiarkan langsung oleh salah satu Stasiun TV Swasta. Pembagian beras itu berlangsung selama enam bulan.
Habib Saggaf bin Mahdi
Pada saat yang sama Assyekh Habib Saggaf bin Mahdi bin Assyekh Abibakar bin Salim seorang tokoh masyarakat setempat yang akrab dipanggil Abah, meminta Anak-anak sekolah datang kerumahnya untuk diberi uang jajan sebesar Rp.1500/anak. Di luar dugaan, yang datang cukup banyak sehingga halaman rumahnya dipenuhi anak-anak. Setiap anak diberi sarapan nasi ketan dicampur gula merah dan kelapa plus uang jajan Rp.1500. ada juga bantuan-bantuan lainnya yang diberikan oleh Abah, seperti kain kafan bagi yang meninggal dunia,bantuan yang menikah dan sebagainya.
Habib Saggaf bin Mahdi lahir di Dompu Nusa Tenggara Barat ( NTB ) Tanggal 15 Agustus 1945. jebolan Pesantren Tradisional Darul Hadist Malang, kemudian balik kampung halamannya dan mendirikan Pesantren Ar-Rahman yang hingga kini masih eksis di Dompu. Beliau Termasuk berketurunan Yaman, Kemudian Beliau melanjutkan studinya berturut-turut di Bahrain, Al-Azhar Mesir, dan Irak, lalu mengamalkan ilmunya di Makkah selama lima tahun. Sebelum kembali ke tanah air, ia sempat mengajar di Italia,Taipeh (Taiwan). Singapura, Malaysia, sampai Ke Brunei Darussalam. Sebelum pindah ke Jakarta Beliau mendirikan Pesantren Nurul Ulum Di Surabaya.
Lelaki yang selalu berjubah putih ini memiliki komitmen yang kuat untuk melahirkan SDM yang berkualitas dan profesional. Sisa hidupnya dihabiskan di dunia pendidikan. Kegiatan sosialnya di Desa Waru jaya, Parung Bogor, tahun 1998 itu, mendapat simpati masyarakat. Rumah yang dimilikinya sekarang adalah wakaf seorang dermawan bernama H.Gembong dari Blitar.
Pesantren ini pada mulanya diawali seorang santri, yaitu remaja bernama Prawoto Suwito asal Wonogiri, Solo, alumi STM yang bekerja di PT Sanyo. Pada tahun 1998 ia bermimpi ingin nyantri ke Abah dan mimpi itu langsung disampaikannya kepada Abah. Katanya, ia ingin nyantri untuk menguatkan jiwanya menghadapi kehidupan ini. Prawoto lalu dibuatkan pondok terbuat dari kayu bambu berukuran 4x5 M sebagai pondok yang pertama di pesantren itu. Setelah itu datang lagi sekitar 25 santri, dibuat kan lagi pondok ukuran 8x5 M, datang lagi sekitar 70 santri, datang lagi, datang lagi. Santrinya bertambah terus, sedangkan kapasitas pondoknya kecil dan sempit bahkan sebagian ada yang tidur di bawah kolong. Hal ini, menggugah perhatian sejumlah dermawan, salah satu teman akrabnya Beliau adalah Bapak H. Isya Anwar dari Jakarta.
|
|
Ta'lim Tafsir Jalalain
Foto H.Isya Anwar
Al Quran Raksasa
Pendapat Anda
Hasil Produksi
Biografi Guru Besar Al-Asriyyah Nurul Iman Parung












