Nurul Iman News – Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI) menurunkan 17 atlet ke SEA Games, termasuk mereka yang berpengalaman di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang. Di antaranya, Defia Rosmaniar, yang meraih emas di pesta olahraga bangsa-bangsa se-Asia itu.

Hari pertama cabor taekwondo Sea Games 2019, Manila Filipina, timnas taekwondo Indonesia meraih 5 medali perunggu di nomor poomsae (jurus). Bertanding di Ninoy Aquino Stadium, kawasan Rizal Memorial Sport Complex, kelima perunggu tersebut diraih oleh Rahmania Gunawan Putri di kategori Individual putri. Emas di kategori ini diraih oleh atlet tuan rumah Filipina Ninobla Jocel Lyn , dan perak di rebut oleh atlet asal Thailand Srisahakit Ornawee.

Medali perunggu ke empat di rebut dari kategori “Freestyle Poomsae Individual putra“ atas nama Wawan Saputra yang merupakan atlet perwakilan dari N-Lion’s taekwondo Nurul Iman. Wawan kalah dari atlet tuan rumah yang meraih emas Domigues Jeordan, dan medali perak diraih oleh atlet asal Vietnam Nguyen Ngoc Minhy.

Adapun medali perunggu kelima di raih di kategori “Freestyle Poomsae Mixed Team“ yang terdiri dari Wawan Saputra, Abdul Rahman Darwin, Muhammad Ibnu (ketiga atlet tersebut merupakan atlet perwakilan dari N-Lion’s taekwondo Nurul Iman), Melinda Evelyna dan Ruhil. Emas di kategori ini direbut oleh atlet asal Myanmar dan perak diraih atlet asal Philipina.

Menurut pelatih Poomsae Indonesia, Maulana Haidir, dirinya mengapresiasi perjuangan para atlet. Raihan 5 medali perunggu yang disumbangkan oleh timnas taekwondo adalah pencapaian maksimal, walaupun menurutnya ada yang diluar ekspektasi. Beberapa nomor memang diakuinya sangat ketat dan kompetitif. Walaupun dalam latihan timnas bisa lebih baik dari penampilannya saat bertanding, akan tetapi diakuinya faktor pengalaman menjadi catatan penting dari hasil yang dicapai

“Seperti diketahui, sebagian besar atlet poomsae kita adalah muka baru. Dan harus diakui penampilan tim kita sudah bagus, cuma faktor non teknis yang menyebabkan tidak tercapainya target yang diinginkan. Padahal setidaknya kita bisa merebut satu medali emas di nomor ini,” ujar Maulana.

Selain itu, menurut Maulana, harus diakui memang seperti dugaan para praktisi taekwondo Indonesia sebelumnya, bahwa untuk kategori poomsae memang sulit untuk menembus emas, karena menurutnya, selain kesiapan fisik, mental dan pengalaman bertanding, faktor non teknis yang kerap menjadi kontroversi di setiap Sea Games diakuinya terus terjadi. Sea Games kali ini dirinya melihat dari perspektifnya bahwa Wawan Saputra (atlet perwakilan N-lion’s), yang tampil di kategori individual free style, layak mendapatkan emas. Namun apa daya penilaian wasit di kategori memang mutlak harus dihormatinya.

“Walaupun secara kualitatif kita bisa menilai hasil presentasi para atlet, namun hasilnya, tetap diluar ekspektasi. Apalagi berkaitan dengan masalah tuan rumah, memang sulit menembus faktor itu,” terang Maulana.

Namun Maulana (biasa disapa Nana) mengakui bahwa faktor tuan rumah hanyalah sebagian dari problem yang harus di evaluasi dari atlet kita. Intinya adalah para atlet harus mampu tampil sempurna, bukan cuma fisik dan teknis, tapi juga mental. Oleh karenanya, setelah ini dirinya akan melakukan telaah dan analisis terkait pencapaian hasil di Sea Games ini, agar kedepan menjadi lebih baik.

Biar bagaimanapun, para atlet harus diberikan pengalaman bertanding di tingkat Internasional sebagaimana Nurul Iman N-Lions yang mampu meningkatkan kualitas atlet-atletnya sampai ke tingkat Internasional. Tim taekwondo Indonesia akan bertolak ke tanah air, Selasa (10/12) malam. Para atlet tak akan mendapat waktu istirahat banyak. Mereka langsung menjalani pelatnas di Jakarta.

Jangan pernah menyerah dan terus berjuang, menang kalah itu biasa, karena seorang pemenang bukannya tak pernah gagal, tetapi ia berusaha untuk tidak pernah menyerah.

 

 

 

 

Website Al Ashriyyah Nurul Iman – Muhammad Chanafi