Ahad, 16 November 2025, Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School kembali menjadi pusat perhatian publik nasional. Bertempat di Kampus Biru, pesantren yang dikenal dengan konsep Green Pesantren ini menjadi tuan rumah kegiatan bertajuk “Pelatihan Pengembangan Wawasan Moderasi Beragama dan Internalisasi Eko-Theology”.

Acara ini dihadiri peserta dari berbagai wilayah Indonesia, bahkan hingga aceh—sebuah bukti kuat bahwa pesantren ini telah menjadi rujukan nasional dalam pengelolaan lingkungan yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan.

Acara dimulai di lapangan utama pesantren dengan penuh khidmat. Prof. Dr. Ali Mutakin M.A H.K membuka kegiatan dengan do’a bersama. Setelah itu, Pembacaan lantunan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama sebagai simbol kebersamaan para peserta dari berbagai provinsi dan latar belakang agama. Suasana semakin meriah dengan penampilan seni santri, mulai dari marawis, hingga demonstrasi martial art bela diri sebagai kreativitas para santri Nurul Iman.

Kemudian acara pun dilanjut dengan Sambutan Para Tokoh, Sambutan pertama diawali oleh Prof. Arif Jamhari, PSD. Yakni salah satu peserta dalam pelatihan tersebut. Dalam sambutannya, Prof. Arif menyampaikan kekaguman atas komitmen Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman dalam mengelola lingkungan hidup secara islami dan modern. “Peserta pelatihan ini hadir dari seluruh Indonesia—Ambon, Sulawesi, Brunei, Jawa, bahkan Aceh. Kami ingin belajar bagaimana pesantren ini mampu mengelola lingkungan hidup secara selaras dengan ajaran agama dan visi Kementerian Agama. Kami sangat bahagia atas sambutan yang hangat ini. Semoga Allah SWT membalas kebaikan ini,” ungkapnya.

Setelah itu, dilanjut dengan sambutan dari Umi Waheeda, Sp.Si., M.Si. selaku tuan rumah dan Pembina Yayasan Al-Ashriyyah Nurul Iman.  Sebagai pemimpin Yayasan sekaligus penggerak utama program pesantren, Umi Waheeda berbagi pengalaman panjangnya sejak menjadi pengajar sejak 1998–2010 bersama suaminya (Hb. Saggaf Bin Mahdi BSA). Beliau menekankan bahwa Nurul Iman dapat menjadi pesantren besar, mandiri, gratis dan berkualitas karena sistem wirausaha sosial dan pengabdian santri pasca kelulusan.

“Yang membuat kami independen dan insya Allah sustainable sampai kiamat adalah wirausaha kami. Kami fokus pada zakat, infak, dan wakaf. Santri yang telah selesai pendidikan mengabdi dua tahun di tiga departemen: wirausaha, pendidikan, dan kepesantrenan,” jelas Umi. Saat ini, pesantren memiliki hampir 500 ustadz/ustadzah, dibantu santri magang dan santri pengabdian—membentuk ekosistem pendidikan yang kuat dan mandiri.

Setelah itu, Acara Intipun berkanjut di Ruang Kelas. Sesi inti berlangsung di ruang kelas setelah pemutaran Profil Yayasan dan Animasi Biografi Abah sejak kelahiran, mencari ilmu, mendirikan pesantren sampai wafat. Yang mana kisah perjuangannya menginspirasi seluruh kegiatan Nurul Iman hingga hari ini.

Lalu, acara berikutnya ialah Sesi Tanya-Jawab para peserta Bersama Umi Waheeda. Pertanyaan pertama dari Nadya, Dosen UIN Jakarta, beliau bertanya: Bagaimana cara menjadi perempuan tangguh seperti Umi? Apa pesan Umi?

Umi menjawab dengan sederhana namun mendalam: “Perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama. Kekuatan itu milik Allah SWT. Just do it. Jalani, nikmati, be happy, and always be graatefull. Saya bertahan karena masa depan Indonesia tergantung anak-anak pesantren. Dan Jangan pernah mengeluh, dengan curhat kepada siapa pun selain Allah. Ingat ekuatan itu dari dan Milik Allah SWT”

Pertanyaan berikutnya ialah Peserta dari Padang Pariaman, Sumatra Barat. Beliau memberikan sekaligus dua pertanyaan, yakni: Apa yang diwajibkan kepada santri sebelum menjadi alumni? Dan Bagaimana cara memulai pesantren gratis?

Umi menjelaskan: “Mulailah dari yang kecil. Dulu kami memulai dari satu kobong untuk sholat dan kegiatan-kegiatan santri. Yang penting sudah ada lahan, karena itu sudah merupakan modal. Kemudian Ajarkan santri mengamalkan Al-Qur’an dan ajarkan keterampilan bisnis. Pesantren tidak hanya mencetak ahli agama, tapi juga pengelola ekonomi.”

Selanjutnya pertanyaan terkhir dari  Syarif Maulidin – Bustanul Ulum, Lampung Tengah. Beliau bertanya: Apa yang memotivasi untuk membuka unit usaha pertama?

Umi menjawab: “Unit usaha pertama kami adalah daur ulang sampah, karena memiliki teklen: there is no trash but case. Kemudian kami bekerja sama dengan Bank Indonesia dalam tiga unit usaha utama: daur ulang sampah, air minum mineral, dan biogas. Modal terbesar bukan uang, tetapi SDM. Itulah yang harus kita didik untuk menjadi sidiq, fathonah, amanah, untuk tabligh.”

Sesi tanya jawabpun berakhir seiring dengan berakhirnya arangkaian acara. Kemudian kegiatan pun dilanjut dengan Makan Siang Bersama yang mempererat keakraban peserta. Setelah itu, seluruh peserta melakukan simbolisasi Green Pesantren dengan menanam pohon bersama di area pesantren—menegaskan komitmen pesantren terhadap kelestarian lingkungan dan teologi ekologi.

Kegiatan ini tidak hanya mempertemukan para tokoh pendidikan dari berbagai agama dan pengelola pesantren dari berbagai daerah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman menjadi model pesantren mandiri, ramah lingkungan, dan berwawasan moderasi beragama. Semangat pembaruan, kemandirian ekonomi, dan pendidikan karakter menjadi fondasi kuat yang menggerakkan pesantren ini menuju masa depan.

By. Usep Ridwan ss