Jakarta, Nurul Iman Inews — Pada kesempatan kali ini, Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School mendapatkan undangan langsung dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk berkesempatan hadir dan mengikuti rangkaian acara Doa Bersama Tolak Bala yang dirangkaikan dengan Pengukuhan Pengurus MUI periode 2025–2030 di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Dalam kegiatan tersebut, Yayasan Al Ashriyyah Nurul Iman mengikutsertakan 1.000 santri yang diberangkatkan menggunakan 17 unit bus. Persiapan keberangkatan telah dilakukan sejak selepas Salat Subuh. Dengan penuh rasa senang dan hati yang riang, para santri tampak sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan ini.

Setibanya di kawasan Masjid Istiqlal, seluruh rombongan santri memasuki area masjid melalui Pintu As-Salam, yakni pintu yang berada di dekat Halte Juanda. Seluruh rombongan masuk dengan tertib dan teratur. Suasana Masjid Istiqlal tampak sangat ramai, dipenuhi oleh para undangan dari berbagai yayasan, pesantren, sekolah, serta majelis taklim yang turut menghadiri acara tersebut. Adapun kuota jamaah yang diberikan langsung oleh MUI pada kegiatan ini mencapai 48.000 jamaah.

Puluhan ribu jamaah memadati Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, jelang Pengukuhan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2025–2030. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan acara “Bersatu dalam Munajat Keselamatan Bangsa”. Presiden Republik Indonesia, H. Prabowo Subianto, dijadwalkan hadir dalam acara ini.

Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) tampak berjaga ketat untuk mengamankan jalannya kegiatan. Para jamaah yang hadir mengenakan pakaian serba putih, menambah kesan khidmat dan sakral suasana.

Pra-acara dimulai sejak pukul 07.30 WIB dengan penampilan hadrah Al-Mabruk Nusantara yang menghadirkan H. Muhammad Zaki Maulana Kamal serta Agus Ragil dari Ahbabul Mustofa, Tangerang Raya.

Memasuki pukul 08.15 WIB, kegiatan dibuka dengan pembacaan tawasul dan Yasin Fadhilah yang dipimpin oleh KH Abdul Manan Ghani. Selanjutnya dilanjutkan dengan pembacaan doa keselamatan bangsa yang dipimpin oleh sejumlah tokoh, di antaranya KH Mahfud Assirun, Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi, Habib Ahmad bin Ali Assegaf, dan Ustadz Abdul Somad.

Momentum ini menjadi bagian penting dalam menguatkan dimensi spiritual kegiatan, mengingat munajat menjadi landasan utama sebelum memasuki sesi pengukuhan. Menjelang pukul 09.15 WIB, hadrah Ar Ridwan Al Marashli kembali melantunkan shalawat yang semakin menguatkan suasana kebersamaan dan kekhidmatan.

Pra-acara ditutup dengan pemutaran video perjalanan kiprah 50 tahun MUI pada pukul 09.55 WIB, yang menampilkan rekam jejak peran strategis MUI dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan.

Memasuki inti acara pada pukul 10.00 WIB, jamaah berdiri menyambut kehadiran Presiden Republik Indonesia dengan Mahalul Qiyam (Shalawat Badar) yang dibawakan Al-Mabruk. Seluruh hadirin kemudian menyanyikan Lagu Indonesia Raya sebagai bentuk penghormatan kepada negara dan bangsa.

Acara dilanjutkan dengan pembukaan resmi oleh pembawa acara dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh KH Muammar ZA, yang mengingatkan tentang kerusakan akibat ulah manusia, selaras dengan tema doa keselamatan bangsa. Doa kemudian dipimpin oleh KH Afifuddin Muhajir.

Laporan Ketua Panitia Pengukuhan Dewan Pimpinan MUI Pusat disampaikan pada pukul 10.30 WIB, dilanjutkan dengan penyerahan simbolis bantuan rehabilitasi masjid serta 500 rumah marbot dan guru ngaji penyintas bencana di Sumatera. Pada sesi yang sama juga dilakukan peresmian Moslem Disaster Rescue (MDR) MUI.

Pukul 10.55 WIB, dibacakan Surat Keputusan MUI tentang susunan dan personalia Dewan Pimpinan MUI oleh Sekretaris Jenderal MUI, dilanjutkan dengan prosesi baiat pengukuhan kepengurusan masa khidmat 2025–2030.

Pada kesempatan ini, Habib Hasan Ayatullah turut berkenan hadir di Masjid Istiqlal dan mengikuti rangkaian acara hingga selesai. Rangkaian inti acara ditutup dengan taklimat Presiden Republik Indonesia, H. Prabowo Subianto, dan secara resmi berakhir pada pukul 11.30 WIB, sebelum ditutup dengan sesi foto bersama dan penutupan oleh pembawa acara.

Usai acara, para santri meluangkan waktu sejenak untuk mengelilingi dan menyaksikan keagungan Masjid Istiqlal hingga berkumandangnya azan Zuhur, sebelum bersiap untuk kembali melanjutkan agenda selanjutnya.

By: Khoerul