reeeSetelah beberapa waktu lalu CEO salah satu perusahaan air asal Jepang Hisaomi Kuroiwa bekerja sama dengan Yayasan al-Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School, kini giliran Kementerian Koperasi bersama empat pengusaha Jepang juga mendatangi Nurul Iman, Kamis, 11 September 2014.

Mereka ialah Bapak M. Taufik dari Kemenko, Nakamura, Hirayama, Kota, dan Nishijima. Rombongan tiba pada pukul 09.00 WIB kemudian disambut oleh segenap penampilan kreasi seni santri di Masjid Toha.  Tujuan kedatangan para pengusaha Negeri Sakura ini adalah bagian dari agenda social entrepreunership pemerintahan Jepang dengan Kementerian Koperasi.

“Ini bagian janji saya dengan Umi, sudah lama ketika bertemu di rumah Pak Habibie, tapi baru ini kali pertama sempat datang,” ungkap Bapak M. Taufik.

Tambah Beliau bahwa pemerintahan Jepang mempersilakan masyarakat Indonesia untuk magang bekerja di berbagai perusaan Jepang.  Sejak tahun 1993 dimulainya kerja sama, hingga saat ini sudah 35000 warga di tanah air bekerja disana.  Saat ini tercatat 5000 ribu orang yang sedang belajar usaha di sana.

“Kami ingin memberi kesempatan kepada santri di sini untuk belajar di Jepang.  Tentu tidak semua. Siapa yang rajin dan kerja keras. Kami harapkan adik-adik dari sekarang belajar bahasa Jepang, kami akan datangkan guru bahasa Jepang. Dari kalian akan diseleksi yang rajin.  Karena itu syarat yang utama,” jelas Bapak M. Taufik.

Salah satu pengusaha Jepang kelahiran Indonesia Nishijima dalam sambutannya berjanji akan membangun Nurul Iman dengan kerja sama pengiriman santri untuk magang atau bekerja di sana.

“Harus ada mental untuk membuka usaha mandiri setelah dari sana.  Cukup tiga tahun saja. Dikhususkan kalian yang bisa bahasa Jepang.  Kalau tidak bisa bahasa Jepang, maka kerja juga tidak bisa,” kata Bapak yang cukup lancar berbahasa Indonesia itu.

Sebelumnya kerja sama serupa juga diterapkan di Pondok Pesantren Jombang dan Jawa Barat.  Pesantren dipandang menjadi salah satu pusat pengkaderan untuk memunculkan para wirausahawan mandiri. Indonesia sendiri masih tergolong sedikit dibandingkan 150 ribuan orang Asia yang belajar wirausaha di Jepang.

Leave a Reply