Sebanyak 120 santri delegasi pondok pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman mendapat undangan khusus dari Ibu Shinta Nuriyah (Istri Gus Dur) untuk mengikuti peringatan Haul ke-7  KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bersama puluhan ribu jama’ah dari dari kalangan nahdliyyin, ribuan santri dan jamaah lainnya. Acara haul ini juga dihadiri tokoh lintas agama, yang juga sebagai bukti bahwa Gus Dur merupakan sosok yang disegani oleh masyarakat non muslim. Acara tersebut dilaksanakan di kediaman Gusdur yang bertempat di Pondok Pesantren Cuganjur komplek yayasan Wahid Hasyim Jalan Warung Sila No. 16, Ciganjur Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat malam (23/12/2016).
Dalam Haul ke-7 kali ini, keluarga Gus Dur mengambil tema “Ngaji Gus Dur : Menebar Damai Menuai Rahmat” dengan tujuan mempererat hubungan sesama manusia khususnya umat Muslim. “Sebagaimana seperti tahun sebelumnya, Tahun ini kami kembali menggelar peringatan 7 tahun wafatnya Gus Dur, dan alhamdulillah banyak sekali yang hadir” ujar Ketua Panitia Haul, Alissa Wahid.5
Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir juga hadir dalam acara tersebut. Kehadiran Jokowi disambut hangat oleh Yenny Wahid, keluarga dan segenap hadirin. Hadir pula beberapa tokoh dan pejabat negara diantaranya : Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Wakil Presiden Boediono periode 2009-2014, ketiga cagub dan cawagub DKI Jakarta, Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa Pangdam Jaya Mayjen Teddy Lhaksmana, Wakapolda Metro Jaya Brigjen Suntana, para menteri kabinet kerja, Ketua PBNU Said Aqil Siradj dan  Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang sudah lebih dulu tiba di lokasi bersama ribuan santri.4
Sedangkan Sejumlah tokoh agama, tokoh pemerintah, tokoh masyarakat, dan budayawan lainnya yang hadir antara lain, KH Ahmad Mustofa Bisri, Habib Ja’far Alkaff, Habib Umar Muthohar, KH Said Aqil Siroj, Sabam Sirait, Joko Pinurbo, Putu Wijaya, Acep Zamzam Noor, dan Cici Paramida. Dan para santri dari Nurul Imanpun mengaku senang mengikuti acara ini. “Saya sangat senang bisa ikut hadir memperingati haul KH. Abdurrahman Wahid, seorang Ulama’ Besar dan juga tokoh bangsa yang sangat di segani oleh banyak kalangan, apalagi Bapak Presiden dan para tokoh agama, tokoh pemerintah, tokoh masyarakat juga turut hadir, ini luar biasa” ungkap Akhmad Fathi Ali, salah satu santri Nurul Iman yang hadir dalam Haul Gus Dur.1
Peringatan haul ke-7 tahun Gus Dur diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia raya dan Mars Syubbanul Wathon kemudian dilanjutkan dengan pembacaan  tahlil, maulid Nabi Besar Muhammad SAW, taushiah, doa bersama, deklarasi damai/ikrar ciganjur, testimoni, pembacaan puisi serta atraksi lukisan bayang pasir yang menceritakan tentang Ke-Indonesiaan. Acara ini juga  dimeriahkan pula oleh penampilan Cici Paramida serta band musik tradisi Kunokini.

Bapak Presiden Joko Widodo dalam sambutannya mengatakan bahwa Bangsa ini seharusnya bersyukur, bukan malah gaduh. “Kita harusnya bersyukur, ketika banyak negara yang lain goyah mencari pedoman hidup, kita punya Pancasila,” kata Jokowi. Indonesia pantas bersyukur karena tak kehilangan falsafah dan ideologinya. Tak seperti bangsa lain yang ideologinya lekang termakan realitas dan harus diingkari sana-sini. Namun ideologi Pancasila terbukti kokoh sampai sekarang. Bila bangsa Indonesia termasuk tokoh-tokohnya bersyukur, maka kondisi Indonesia bakal lebih stabil. Pembangunan di segala bidang akan berjalan dengan baik. “Seharusnya kita membangun lebih cepat, bergerak lebih cepat, bergotong royong lebih cepat agar negara kita memenangkan persaingan,” tambahnya. 2
Pada kesempatan itu juga dilakukan pembacaan ikrar damai umat beragama Indonesia yang dibacakan oleh pemuka agama Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Konghucu, dan aliran kepercayaan. Dalam pembacaan tersebut di pimpimpin oleh Ketua PBNU Said Aqil Siradj. Salah satu isi ikrar itu adalah meminta ketegasan pemerintah untuk menindak kelompok yang melakukan tindakan yang mengancam kebinekaan. Setelah ikrar dibacakan, Said Aqil Siradj bersama tokoh lintas agama meneken ikrar yang dibingkai tersebut. Kemudian, ikrar tersebut diberikan secara simbolis kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Puteri sulung KH Abdurrahman Wahid, Alissa Qotrunnada Munawaroh (Alissa Wahid), menyampaikan pesan Gus Dur agar Bangsa Indonesia terus menjaga kebhinekaan yang merupakan kekayaan bangsa ini. “Yang sama jangan dibeda-bedakan, yang beda jangan disama-samakan,” kata Alissa saat mewakili keluarga menyampaikan sambutan. Alissa melanjutkan, untuk dapat menghargai perbedaan maka yang harus dilihat adalah manusianya sebagai sesama ciptaan Tuhan yang di dalam terminologi agama disebut sebagai persaudaraan antarmanusia (ukhuwah basyariyah).3
Gus Dur sendiri semasa hidupnya dikenal sebagai sosok pluralisme. Selain itu, dia juga kerap memperjuangkan hak kaum minoritas. “Bahwa ke-Islaman dan ke-Indonesiaan tidak dapat dipisahkan. Kalau bicara Indonesia harus membicarakan umat Islam, kalau membicarakan umat Islam, juga membicarakan Indonesia,” ungkap putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid. Sepanjang hidupnya, Gusdur dikenal sebagai tokoh yang melanjutkan tradisi para ulama. Mantan Presiden Indonesia ke-4 ini juga dikenal sebagai penghadir Islam yang ramah dan damai, membela kepentingan kaum lemah dan dapat beradaptasi dan menerima budaya.
Acara dilanjutkan dengan Tausiyyah oleh Al Habib Umar Muthohar kemudian ditutup dengan do’a oleh Al Habib Ja’far Alkaff.

Dilaporkan Oleh : Budianto bin Darmo Pawiro, S.H. (Pemimpin  Redaksi)

Leave a Reply