Umi Waheeda berdoa di makam Abah, sesaat sebelum Perayaan Milad Abah dimulai, Parung (15/8/14)
Umi Waheeda berdoa di makam Abah, sesaat sebelum Perayaan Milad Abah dimulai, Parung (15/8/14). (Foto: Studio Nurul Iman)

Parung. Perayaan Maulid Abah 2014 menjadi agenda pembuka bagi Yayasan Al-Ashriyyah Nurul Iman Islamic Boarding School. Pasalnya, segenap santri dari penjuru tanah air baru saja kembali dari libur panjang.

Kemeriahan nampak dengan hadirnya ribuan santri, alumni, serta wali santri yang memenuhi Masjid Toha, 15 Agustus 2014.  Sejumlah santri pun menampilkan berbagai seni islami. Tak ketinggalan potong tumpeng (nasi kuning) menjadi hadiah ulang tahun almahrum Abah yang lahir pada 15 Agustus 1945, di Dompu, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Ini ada tumpeng, tumpengya sederhana sekali karena Abah suka yang sederhana,”  ungkap Umi Waheeda saat memotong tumpeng atas ulang tahun Abah didampingi putra beliau Habib Muhammad Waliyullah.

Dalam sambutan Beliau, Umi Waheeda menceritakan beragam kisah yang Abah lalui khususnya ketika masa kelahiran Abah di Dompu. Kondisi negara menjelang kemerdekaan pada waktu itu, pasukan Jepang masih gencar melakukan serangan.

“Abah mengatakan, Waheed kalau saya tidak lahir pada waktu itu mungkin Indonesia tidak akan merdeka. Karena pada waktu itu Jepang sedang mengebom Dompu dan sekitar. Hababah (Ibunda Abah) sempat bersembunyi lalu Abah lahir dengan balutan bendera merah putih. Bendera itu masih ada sekarang,”  papar Umi Waheeda.

Abah pun wafat pada tanggal 12 November 2010. Penayangan video hikayat Beliau pada saat Perayaan Milad 2014 itu, kembali menguraikan kesedihan sekaligus kebanggaan karena sampai saat ini Nurul Iman masih bisa bertahan. Bahkan dalam kesempatan ini Umi Waheeda menandatangani MoU dengan pihak kontraktor Menpera untuk mulai pembangunan rusun di Bojong.  Umi juga berkeinginan untuk mendirikan Bank Nurul Iman dan Baitul Mal.

Dalam penutup sambutan Beliau, Umi Waheeda menyampaikan pesan kepada seluruh santri agar berjihad fisabillah untuk agama Allah.

“Jangan pernah mengaku miskin, karena miskin mendekati kekafiran. Kalian harus jihad fisabilillah melawan kemiskinan dan kebodohan seperti yang Abah lakukan,”  jelas Umi Waheeda. (Rd. MNuh)

 

Leave a Reply